Mas Defas
Selasa, 18 April 2017
Maaf
Kamis, 24 Desember 2015
Senin, 30 Maret 2015
Sepucuk Surat dari Putra Putri Ibu untuk Pemerintah
Indonesia, negeri beribu ribu pulau. Negeri dimana yang berawal dari Sabang di Barat dan Merauke di ujung Timur, menandakan betapa luasnya Negeri Beribu Pulau. Negeri dengan kepulauan terbesar didunia. Negeri indah yang terletak di Ekuator dunia. Negeri yang digadang gadang sebagai surganya dunia. Keindahan alamnya dan keramahan penduduknya berbanding lurus sejalan dengan eratnya perbedaan yang bersatu menjadi kesatuan dibumi Pertiwi.
Indonesia, negeri kaya yang terletak di jalur perdagangan dunia. Negeri yang kaya akan hasil alamnya yang sangat berkualitas. Tidak ada seorangpun yang mengelak akan hal ini. Negeri dimana dilahirkannya Sang Elang Rajawali ini memang menjadi daerah yang strategis dalam hal perdagangan. Bak bahtera dilautan badai yang mengamuk memecah kesunyian, negeri ini belum mampu mengarungi derasnya arus perdagangan dunia. Ini terbukti dengan masih seringnya kita mengimpor barang yang sudah ada atau diproduksi atau dihasilkan didalam negeri. Alhasil kita hanya dijadikan sebagai pecundang karena kita atau bahan hasil dalam negeri kita kalah dipasar nasional. Dalam hal ini kita ambil contoh beras, beras di Indonesia sangat baik kualitasnya. Tetapi mengapa kita harus mengimpor dari Thailand? Alhasil petanilah yang dirugikan.
Karena kalah dalam pasar nasional bukan tidak mungkin penghasilan sebagian besar rakyat akan hilang bak ditelan bumi. Efeknya adalah pengangguran pun makin meningkat. Karena disaat penghasilan mereka hilang pada saat bersamaan lowongan kerja juga tidak banyak tersedia. Alhasil meningkatnya kemiskinan dinegeri ini. Sebuah momen dimana kita seharusnya bisa menjadi Elang Rajawali dibumi Ibu Pertiwi, tetapi kita hanya bisa menjadi Bebek Bebek pesuruh dan pekerja. Sebuah hal dimana seharusnya kita bisa menekan angka kemiskinan tetapi kita seperti menambah kemiskinan tersebut. Memang kemiskinan terjadi dari beberapa faktor. Tetapi untuk saat ini saya ingin mengambil contoh perdagangan bebas.
Cukuplah, cukup sudah. Jangan kita membuat Ibu Pertiwi kembali bersedih akan hal ini. Mari kita bersama sama membangun dan menekan angka kemiskinan di tanah Ibu Pertiwi. Mari kita bersama sama membangunkan Sang Elang Rajawali dari tidurnya. Mari kita buat Elang Rajawali terbang bebas dibawah kolong langit buatan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengawasi Bebek Bebek pekerja dan pesuruh itu dan juga melindunginya. Karena kita harus menjadi tuan dinegeri ini untuk membuat Ibu tersenyum melihat putra putrinya membanggakan Ibu. Karena hanya satu hal yang dipegang teguh oleh putra putrinya. Yaitu, mereka ingin menjaga ibu dan harta pusakanya dengan cinta.
Inilah Indonesia. Negeri dimana kita masih menanggung derita kemiskinan. Ini bukan hanya menyakitkan atau membebankan golongan wong cilik. Tetapi indonesia. Putra putri Ibu semua menanggung beban ini. Mari kita bersatu mengurangi beban ini. Bersama kita menyongsong masa depan yang lebih baik, untukmu, untukku, untuk kita semua.
Muhammad Aldefas M.
Sabtu, 21 Maret 2015
Endonesa
Negeri indah disebelah timur bulatnya dunia. Negeri dimana pluralisme berada didalamnya. Negeri dimana surga dunia berada. Negeri dimana diriku lahir.
Oh Ibu Pertiwi, sungguh cantiknya dirimu, betapa aku mencintai dirimu dalam segenap jiwa ragaku. Keelokan parasmu, keindahan alammu laksana Surga Firdaus. Tidaklah ada satupun keinginanku meninggalkan engkau wahai Ibu Pertiwi.
Indonesia, wahai negeriku yang aku cintai. Negeri yang aku sayangi, mengapa kau sekarang begitu terpuruk? Mengapa kau relakan dirimu digerogoti tikus Goblok yang merugikan dirimu? Mengapa wahai Indonesiaku?
Dulu dirimu begitu tingginya bagaikan mercusuar dikalangan umat manusia didunia ini, terutama kali dikalangan New Emerging Forces. Sehingga kau mampu membuat kaum barat merasa gemeter. Kau juga mampu merangkul bangsa yang baru lepas dari penindasan manusia oleh manusia atau explotation de l'homme par l'homme. Dulu kau mampu membuat bangsa Afrika menggelegar bagaikan belegek menghampar hampar.
Tetapi mengapa sekarang kau begitu melempem? Kemana dirimu yang dulu begitu tinggi bak mercusuar itu? Dirimu yang selalu digembleng oleh keadaan untuk menjadi suatu bangsa yang besar.
Kita sempat mengalami era dimana kita merasakan menjadi bangsa yang dihormati dan mampu merangkul bangsa bangsa bangsa lain di era Ir. Sukarno. Kita sempat membuat Amerika pusing tujuh keliling karena tidak bisa menguasai Indonesia. Ya, kita pernah. Kita pernah merasakannya.
Tetapi sekarang, dimana kita mengharapkan kembali terjadinya momen itu. Perlukah kita membangkitkan kembali Sang Bung Besar itu? Tidak! Karena tugas beliau sudah berakhir, kitalah yang harus melanjutkan apa yang dicita citakan beliau. Kita perlu pemimpin seperti dia. Dimana dia tidak bisa diatur oleh bangsa asing, tegas, dan menyayangi rakyatnya.
Kami tidak ingin melihat Ibu Pertiwi selalu sedih. Kami ingin melihat Ibu Pertiwi tersenyum.
Ibu Pertwi, janganlah kau bersusah hati. Sekalah air mata yang mengalir dipipimu. Jangan biarkan emas dan intan yang kita punya hanya jadi kenangan.
Ibu Pertiwi, kami datang untuk berbakti, demi menggembirakan ibu. Kami selalu mencintai ibu. Kami setia menjaga harta pusakamu demi nusa dan bangsa.
Percayalah kepada kami wahai Ibu Pertiwi. Percayalah kepada kami generasi penerus. Kami hanya ingin membuatmu kembali tersenyum, melihat bakti bakti putra putrimu yang mencintai dirimu. Tegak kan kepalamu wahai Ibu Pertiwi... Kami siap membuatmu Tersenyum.
Muhammad Aldefas M
Selasa, 19 Agustus 2014
Asal usul Ginevra.
Nama Ginevra sebenarnya saya ambil dari kata pertama dari nama lengkap Ginny Weasley yaitu, Ginevra Molly Weasley. Ya, dari nama itu saya ambil kata Ginevra. Seorang gadis cantik yang diperankan oleh Bonnie Wright, entah kenapa saya bisa suka dengan karakter tersebut. Jadi bukan mengambil sembarang kata saya sering menggunakan kata Ginevra, bukan nama seseorang yang ada dikehidupan saya, entah itu pernah atau baru. Bukan mengambil nama seseorang dari dunia nyata, akan tetapi seseorang dari dunia fiksi. Maka tidak ada sangkut pautnya dari kehidupan saya, tetapi saya tetap meyakini kalau didunia ini ada seseorang yang seperti Ginevra. Mungkin orangnya sedang dekat dengan saya atau tidak, tapi saya yakin dia dekat dengan saya. Kalau melihat dari perawakan sih memang ada sedikit kemiripan. Yang membedakan mungkin hanya ras saja, karena Ginevra ras Eropa sedangkan dia ras Asia. Kalau menengok dari kacamata saya dia mungkin salah satu orang yang sangat mirip dengan Ginevra, terputus dari pendapat orang lain. Ginevra bukan siapa siapa saya, dan memang bukan. Jadi ada seseorang yang mempunyai kemiripan dengan Ginevra menurut saya, dan dia dekat dengan saya. Jadi bisa disimpulkan menurut saya Ginevra bukan hanya fiksi tapi ada didunia nyata, walaupun lewat perantara orang lain. Bukan bermaksud membandingkan antara Ginevra dengan dia, tapi menurut saya mereka memang bisa disandingkan menjadi satu kesatuan. Jadi Ginevra itu dia dan dia adalah Ginevra.
Senin, 18 Agustus 2014
Yogyakarta.
"Terhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktu. Nikmati bersama suasana Jogja"
Sebuah lagu klasik dari KLa Project. Lagu yang begitu sejuk membuatku ingin kembali kesana untuk waktu yang lama. Mungkin bukan sekedar kembali, tetapi ingin menetap dikota yang indah dan tenteram itu. Keramahan warganya, dan halus sopan santunnya merupakan sebagian alasan yang membuatku ingin tinggal dikota Bakpia itu.
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi mungkin kata kata yang pas untuk melukiskan perasaan diriku saat ini. Perasaan penat yang dihasilkan karena keruwehan Ibu Kota. Ingin sekali diriku mengasingkan diri ke Kota ini, mengasingkan diri dalam artian melepas kepenatan yang terjadi dan belajar mandiri yang selama ini belum aku dapatkan di Ibu Kota. Melepaskan diri dari ketergantungan dari orang tua, walaupun sulit. Ya selama ini diriku memang sangat bergantung kepada orang tua, sehingga diriku kurang mengenal lingkungan luar. Dikota inilah diriku merasakan hal yang selama ini belum pernah aku rasakan sebelumnya. Perasaan yang begitu enak yang begitu bahagia ketika diriku menginjakkan kaki dikota Yogyakarta. Seakan akan kota ini yang memanggilku untuk kesana, sudut sudut kota seakan akan menyapa seolah sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Ramai pedagang kaki lima menjajakan sajian khas yang berselera. Memang banyak halangan untuk menggapai impianku bersekolah disana, salah satunya keluargaku, mereka takut diriku menjadi pribadi yang bertentangan. Mereka juga takut akan keadaanku disana. Tetapi sekarang bukan saatnya untuk mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Yang diriku butuhkan hanya dukungan support dari orang orang terdekat. Sudah saatnya nanti kalian akan melepasku, sudah waktunya nanti diriku hidup sendiri dengan mandiri. Karena suksesku dimasa depan ditentukan hari ini. Dan mulai hari ini diriku sudah mulai berubah kearah yang lebih baik demi menuju sempurna. Maka tolonglah, diriku sangat butuh dukungan kalian orang orang terdekatku. Jika kalian terus menuntunku untuk tidak bersekolah disana, berat hatiku menerimanya. Sekarang bukan saatnya lagi diriku dituntun, bukan lagi anak kecil. Sekarang diriku sudah besar, diriku butuh masukan, support dukungan, jika terus menerus dituntun maka kapan diriku merasakan kedewasaan. Pergaulan pun diriku sudah mengerti mana yang baik dan buruk. Dan diriku sudah bisa membaca mana yang layak dijadikan teman dan mana yang bukan. Percayalah. Percayalah. Diriku kesa hanya ingin mengejar impianku. Jika kalian masih menghalangiku dengan berat hati mungkin sangat berat hatiku untuk ikuti kemauan kalian. Tapi sampai kapan? Karena setelah lulus kuliah nanti diriku sudah tidak ingin tinggal di ibu kota ini. Ini bukan soal kota besar. Ini soal kecintaanku terhadap kota Yogya. Bila waktunya sudah pas diriku akan meninggalkan kalian semua untuk sementara. Tetapi rasa sayang dan cintaku kepada kalia tidak akan pernah luntur walaupun diriku jauh disana.
Aku mengejar impian. Bukan untuk mengejar hal hal yang bertentangan.
Aku ingin menjadi arsitek. Impian ku dimulai dari sekarang.
-Defas1
Penantian Panjang 2 Negeri
Seorang yang berkelana mencari tempat berteduh yang rindang dan kaya akan pepohonan. Berkelana sangat jauh dari negerinya demi mencari seorang wanita yang dicarinya, meski dia harus menempuh jarak ratusan bahkan ribuan kilometer dia akan tempuh. Aldam nama seorang pria tersebut berasal dari Negara Selatan. Negeri yang sangat jauh dari dunia luar, sangat tenteram dan sunyi sekali. Aldam ingin sekali menemui wanita yang sangat dicintainya yang bernama Ginevra. Seorang wanita cantik, berambut agak kecoklatan, dan berwajah manis. Wanita yang berasal dari Negeri Barat. Negeri yang juga tenteram, namun cukup ramai tidak sunyi. Juga banyak kendaraan berlalu lalang didepan kediamannya. Aldam ingin sekali bertemu dengan Ginevra. Diceritakan dia harus menempuh perjalanan hingga 1 bulan. Dia pergi dari kediamannya sehari setelah pemilihan Perdana Menteri di Negeri Timur yang berlangsung cukup alot. Tanpa pamit dia menunggangi kuda hitam putihnya dengan pakaian merah kesayangannya, menuju ke kediaman sang wanita pujaan. Selama 1 bulan perjalanan dia terus merasakan hal hal yang membuat dia tidak bisa fokus dalam berkendara. Dari awal dia berangkat sampai diperjalanan dia terus memikirkan bagaimana keadaan wanita pujaannya tersebut. Memikirkan, khawatir, bahkan sampai harus tersesat karena tidak fokus. Aldam tidak pernah menyalahkan keadaan, waktu, dan situasi. Demi bertemu dan meminang wanita pujaannya tersebut dia rela kalau harus tersesat jika memang itu harus terjadi. Sedangkan dia tidak mengetahui apa yang dilakukan seorang wanita cantik yang dia sayangi. Tetapi dia tidak pernah peduli. Karena yang dia tau adalah dia sayang Ginevra.
Sudah hampir 25 hari perjalanan dia merasakan hatinya semakin berat menahan rasa ingin berjumpa. Melewati padang savannah yang panjang dan memutar, menyeberangi sungai, sampai melewati rawa rawa. Dengan ditemani kuda kesayangannya dia berusaha melewati rintangan tersebut. Tidak ada rasa menyesal. Dia hanya merasakan jantungnya berdegup kencang karena pertemuan dirinya dengan Ginevra akan segera terlaksana.
Tinggal sehari perjalanan lagi dia akan sampai di Negeri Barat. Hatinya sangat senang ketika dia melihat keramahan warga negeri tersebut. Sambil bertanya tanya kepada warga, Aldam melepaskan penadnya dengan duduk disebuah warung kecil. Dia menceritakan tujuannya kesini kepada bapak si penjual. Bapak bapak itupun terkejut akan tekad kuat dan keberanian anak muda ini. Kemudian bapak itu bilang kalau Ginevra masih dalam keadaan sedih. Hubungannya baru kandas beberapa bulan lalu. Dan dia sedih sekali. Aldam seorang yang pemikir, maka otomatis dia berpikir bagaimana cara membuat sang Putri pujaannya bisa menghapus kesedihannya.
Singkat cerita dia sudah sampai didepan kediaman sang Putri Ginevra dengan menyanyikan lagu Is Anybody Out There dari K'naan. Dia akhirnya bertemu dengan sang pujaan hati, dengan senang hati dia mendekati Ginevra. Tetapi dia menahan diri untuk memeluknya. Tampak aneh Aldam melihat Ginevra dengan mata membengkak seperti habis nangis selama bertahun tahun. Dia kemudian mengajak Ginevra duduk disebuah kursi ditaman dekat kediaman Ginevra dan kemudian menanyakan apa masalahnya. Dan benar apa yang dikatakan bapak tua itu kalau dia sedang sedih sekali.
Aldam berdiam sejenak untuk beberapa waktu. Dan kemudian dia berkata bahwa dia akan menemaninya setiap waktu untuk menghilangkan rasa sedih sang Gadis pujaan. Dia rela tidak kembali pulang demi sang Gadis pujaan. Dan melakukan apapun demi sang Gadis pujaan senang dan gembira. Ginevra menganggap Aldam sebagai seorang Kakak, Sahabat, dan Seorang Teman yang baik dan Aldam yang lebih menganggap Ginevra sebagai orang yang disayanginya. Setiap hari dia terus menemani Ginevra, sampai akhirnya dia lupa akan kampung halamannya. Dia akhirnya tinggal didekat rumah Ginevra. Sambil menunggu respon apa yang akan diberikan Ginevra kepadanya. Die terus menunggu dan menemani Ginevra setiap saat dan waktu. Dan lagi lagi Aldam tidak ingin terburu buru dan ingin menikmati waktu, untuk menjaga, dan menemani Ginevra. Walaupun dia harus menunggu lama dia tidak pernah ada rasa ingin menjauhi Ginevra. Yang ada hanya ingin selalu menyayanginya.........