Sabtu, 21 Maret 2015

Endonesa

Negeri indah disebelah timur bulatnya dunia. Negeri dimana pluralisme berada didalamnya. Negeri dimana surga dunia berada. Negeri dimana diriku lahir.

Oh Ibu Pertiwi, sungguh cantiknya dirimu, betapa aku mencintai dirimu dalam segenap  jiwa ragaku. Keelokan parasmu, keindahan alammu laksana Surga Firdaus. Tidaklah ada satupun keinginanku meninggalkan engkau wahai Ibu Pertiwi.

Indonesia, wahai negeriku yang aku cintai. Negeri yang aku sayangi, mengapa kau sekarang begitu terpuruk? Mengapa kau relakan dirimu digerogoti tikus Goblok yang merugikan dirimu? Mengapa wahai Indonesiaku?

Dulu dirimu begitu tingginya bagaikan mercusuar dikalangan umat manusia didunia ini, terutama kali dikalangan New Emerging Forces. Sehingga kau mampu membuat kaum barat merasa gemeter. Kau juga mampu merangkul bangsa yang baru lepas dari penindasan manusia oleh manusia atau explotation de l'homme par l'homme. Dulu kau mampu membuat bangsa Afrika menggelegar bagaikan belegek menghampar hampar.

Tetapi mengapa sekarang kau begitu melempem? Kemana dirimu yang dulu begitu tinggi bak mercusuar itu? Dirimu yang selalu digembleng oleh keadaan untuk menjadi suatu bangsa yang besar.

Kita sempat mengalami era dimana kita merasakan menjadi bangsa yang dihormati dan mampu merangkul bangsa bangsa bangsa lain di era Ir. Sukarno. Kita sempat membuat Amerika pusing tujuh keliling karena tidak bisa menguasai Indonesia. Ya, kita pernah. Kita pernah merasakannya.

Tetapi sekarang, dimana kita mengharapkan kembali terjadinya momen itu. Perlukah kita membangkitkan kembali Sang Bung Besar itu? Tidak! Karena tugas beliau sudah berakhir, kitalah yang harus melanjutkan apa yang dicita citakan beliau. Kita perlu pemimpin seperti dia. Dimana dia tidak bisa diatur oleh bangsa asing, tegas, dan menyayangi rakyatnya.

Kami tidak ingin melihat Ibu Pertiwi selalu sedih. Kami ingin melihat Ibu Pertiwi tersenyum.

Ibu Pertwi, janganlah kau bersusah hati. Sekalah air mata yang mengalir dipipimu. Jangan biarkan emas dan intan yang kita punya hanya jadi kenangan.

Ibu Pertiwi, kami datang untuk berbakti, demi menggembirakan ibu. Kami selalu mencintai ibu. Kami setia menjaga harta pusakamu demi nusa dan bangsa.

Percayalah kepada kami wahai Ibu Pertiwi. Percayalah kepada kami generasi penerus. Kami hanya ingin membuatmu kembali tersenyum, melihat bakti bakti putra putrimu yang mencintai dirimu. Tegak kan kepalamu wahai Ibu Pertiwi... Kami siap membuatmu Tersenyum.

Muhammad Aldefas M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar